Showing posts with label TNI AL. Show all posts
Showing posts with label TNI AL. Show all posts

TNI AL Pesan 4 Kapal Perang Trimaran

BANYUWANGI-(IDB) : TNI Angkatan Laut terus melengkapi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista). Terbaru adalah pembuatan Kapal Cepat Rudal (KCR) berlambung tiga (Trimaran) 63 meter. Kapal tersebut diproduksi oleh PT Lundin Industry Invest yang berbasis di Banyuwangi.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr Marsetio meninjau proses pembuatan kapal tersebut di Pantai Cacalan, Banyuwangi. Turut mendampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi Letkol Laut (P) Edi Eka Susanto, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Mangapul Hutajulu, dan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi I Made Parma.

"Ini merupakan salah satu kunjungan ke galangan kapal kebanggaan nasional karena di sinilah Kapal Trimaran dibuat. Ini juga menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi, karena ternyata daerah di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu produsen alat pertahanan negara,” kata Marsetio, Jumat (24/10/2014).

Marsetio mengatakan, Kapal Trimaran yang terbaru ini merupakan yang pertama di Asia. Selain bekerja sama dengan Swedia, dalam pembuatan desain Trimaran, TNI Angkatan laut juga melibatkan BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional seperti PT PAL (Persero) dan PT Pindad (Persero).

"Untuk tahap pertama, TNI AL memesan empat kapal. Sekarang di sini sedang dibuat yang pertama," ujar Marsetio.

Desain KCR Trimaran yang terbaru ini sedikit berbeda dengan Kapal Trimaran yang sebelumnya. Kapal terbaru ini akan terbuat dari bahan tahan api dan anti-radar.

"Kapal ini tidak hanya akan dipakai di dalam negeri, tapi akan menjadi salah satu produk pertahanan unggulan yang akan dijual ke luar negeri. Seperti kapal LPD yang diproduksi PT Pindad sudah dipesan oleh Angkatan Laut Filipina. Nanti kapal ini juga akan kita jual ke luar negeri," imbuh Marsetio.

Bupati Anas mengaku bangga karena kapal canggih itu diproduksi di Banyuwangi dengan sinergi swasta dan BUMN di bidang industri pertahanan. "Industri pertahanan adalah industri strategis bagi bangsa. Banyuwangi ikut bangga," katanya.

Selain industri pertahanan, mobil listrik berukuran mini juga segera diproduksi di Banyuwangi. Produksi ini melibatkan teknologi Swedia di PT Lundin Industry yang berbasis di Banyuwangi.

"Dubes Swedia dalam waktu dekat ini akan ke Banyuwangi. Saya berharap ada transformasi teknologi, pengetahuan, budaya inovasi bagi kami yang ada di Banyuwangi," tutur Anas.




 Sumber : Detik

KRI Teluk Ratai-509 Uji Artileri Gun Exercise

KJ-(IDB) : Salah satu Kapal perang di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) yakni KRI Teluk Ratai (TRT)-509 menggelar uji tembak menggunakan meriam kaliber 37 mm dalam latihan Artileri Gun Exercise, di Pulau Gundul, Perairan Karimun Jawa, Senin (20/10/2014).

Kapal perang yang sehari-hari berada di bawah binaan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Surabaya dan dikomandani oleh Letkol Laut (P) Tarus Rostiyadi ini berada di Pangkalan Jakarta usai mendukung operasi Angkutan Laut Militer (Anglamil) pergeseran material Alutsista TNI Angkatan Darat dalam rangka HUT ke-69 TNI.

Menurut Komandan Satlinlamil Surabaya Kolonel Laut (P) Bambang Irawan, S.E., bahwa setiap melaksanakan pelayaran, semua kapal perang di jajaran Satlinlamil Surabaya ditekankan untuk mengadakan latihan Artileri atau Meriam Kapal, bertujuan menguji tingkat kesiapan persenjataan serta penguasaan prajurit terhadap persenjataan yang ada dan diharapkan dengan latihan yang terus-menerus dan berkesinambungan, baik terencana maupun tidak terencana, dapat meningkatkan profesionalisme prajurit.

Senada dengan Dansatlinlamil Surabaya, Komandan KRI TRT-509 mengatakan, tujuan digelarnya latihan menembak dari jarak 4 ribu-5 ribu yard atau 2-3 mil tersebut untuk melatih dan meningkatkan profesionalisme masing-masing prajurit matra laut, khususnya personel KRI TRT-509. Selain itu, untuk memperlihatkan bahwa kapal perang berjenis Landing Ship Tank buatan Amerika Serikat pada 29 April 1944 dan bertonase 4080 ton ini selalu dalam keadaan siap setiap saat mengawal NKRI.




Sumber : TNI AL

6 Menteri Dapat Penghormatan Brevet Hiu Kencana Di Kapal Selam

SURABAYA-(IDB) : Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio menyematkan brevet Hiu Kencana kepada 5 menteri dan 1 pejabat setingkat menteri yang dianggap sebagai figur pendorong kelancaran tugas-tugas pokok TNI AL, khususnya terhadap pengadaan kapal selam atau alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Penyematan tersebut diberikan kepada Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar, serta Kepala BIN Letnan Jenderal TNI (Purn) Marciano Norman, yang dilaksanakan di perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dengan menggunakan Kapal Selam KRI Nanggala-402.

Menurut KSAL Laksamana TNI Marsetio, penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana merupakan salah satu bentuk penghormatan, rasa terima kasih dan penghargaan dari jajaran TNI AL kepada mereka dalam upaya turut serta membesarkan dan memajukan TNI AL, terutama, berpartisipasi demi kemajuan pengembangan kapal selam ataupun alutsista, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Dengan diangkatnya keenam menteri tersebut sebagai warga kehormatan kapal selam, maka hingga saat ini sudah ada 142 pejabat yang diangkat menjadi warga kehormatan kapal selam dan berhak menerima brevet kehormatan Hiu Kencana," tuturnya di Koarmatim Surabaya, Sabtu (18/10/2014).
 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, untuk menjaga laut Indonesia yang luasnya 5,8 juta kilometer persegi, maka TNI AL harus mempunyai lebih banyak kapal selam atau alutsista.

"TNI AL harus diberikan lebih banyak alutsista, supaya bisa menjaga dan mempertahankan laut Indonesia," kata Sharif.

Brevet Hiu Kencana merupakan simbol pengakuan terhadap profesionalisme prajurit kapal selam, dalam taktik dan teknik peperangan bawah permukaan laut, yang dapat menumbuhkan kebanggaan dan jiwa korsa bagi para pemakainya.

Sedangkan KRI Nanggala-402 mencatat keberhasilan dalam penugasannya antara lain saat terlibat dalam latihan bersama US Navy dengan nama sandi Cooperation Afloat Readiness dan Training (CARAT-8/02) yang diadakan di perairan Laut Jawa dan Selat Bali 27 Mei-3 Juni 2002.

KRI Nanggala-402 juga terlibat dalam latihan operasi laut Gabungan (Latopslagav) XV/04 di Samudera Hindia 8 April hingga 2 Mei 2004. Kapal selam yang ditenagai oleh mesin diesel elektrik dan memiliki kecepatan 21,5 Knot ini juga berhasil menenggelamkan eks KRI Rakata sebuah kapal tunda samudera buatan 1942 dengan Torpedo SUT. 



Sumber : SCTV

KRI Teluk Cirebon 543 Patroli Laut Kalbar

PONTIANAK-(IDB) : KRI Teluk Cirebon 543 melakukan patroli pengamanan di perairan laut Kalimantan Barat dan Indonesia umumnya, kata Komandan KRI Teluk Cirebon 543 Mayor Laut (P) Arif Prasetyo I.

"Selain melakukan operasi pengamanan perairan Kalbar dan Indonesia umumnya, kami juga siap melakukan operasi bantuan kemanusiaan, seperti operasi bantuan bencana alam tsunami," kata Arif Prasetyo I saat dihubungi Antara, Kamis.

Ia menjelaskan patroli di laut guna menekan seminimal mungkin aktivitas ilegal di laut.

"Minimal dengan kehadiran kami, bisa menekan aktivitas ilegal seperti pencurian ikan di perairan Indonesia nelayan asing," ungkapnya.

KRI Teluk Cirebon 543 dilengkapi meriam laras ganda kaliber 25 mm dan 37 mm, memiliki panjang 90,78 meter, dan lebar 11,12 meter, yakni jenis Landing Ship Tank (LST) "Class Frosch" yang dibuat di Veb Penee Werf, Wolgast, Jerman Timur tahun 1978.

Selain itu, berfungsi untuk mendukung operasi amfibi, mengangkut pasukan pendarat yang akan didaratkan ke pantai, dan juga mampu mengangkut enam tank amfibi dengan ukuran 6-7 meter serta peralatan tempur lainnya.

"KRI Teluk Cirebon bukan termasuk armada tempur maupun pemukul, namun sebagai armada pendarat dan pengangkut logistik," ungkap Arif.

KRI Teluk Cirebon 543 di bawah satuan kapal Amfibi Koarmabar, dan berinduk di Pangkalan Utama Pondok Dayung, Jakarta.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) wilayah perairan Kalbar memiliki tingkat kerawanan yang tinggi, seperti pencurian ikan oleh nelayan-nelayan asing.

Ada tiga wilayah perairan Indonesia yang menjadi primadona pencurian ikan bagi nelayan asing karena kaya akan ikan dan sumber daya kelautan lainnya, yaitu perairan Natuna, perairan Arafura, dan perairan Utara Sulut.

Perairan Kalbar termasuk dalam Zona III bersama Natuna, Karimata dan Laut China Selatan dengan potensi ikan tangkap sebanyak satu juta ton per tahun. Jenis ikan bervariasi seperti tongkol, tenggiri dan cumi-cumi.

Luas areal perairan Kalbar sampai Laut Cina Selatan seluas 26.000 km, meliputi 2.004.000 hektare perairan umum, 26.700 hektare perairan budi daya tambak, dan 15.500 hektare laut.

 

Sumber : Antara

Kopasaka Beraksi Di Bandara Juanda

SURABAYA-(IDB) : Satu tim Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmatim melaksanakan latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) berupa pembebasan sandera (anti teror) di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Selasa (14/10/2014). Latihan tersebut disaksikan langsung oleh President Director Angkasa Pura Airports Tommy Soetomo.

Dalam latihan ini melibatkan sekitar 950 personel, termasuk dari PT Garuda Indonesia dan Airnav Indonesia. Tema yang diangkat dalam latihan ini adalah One Day Exercise, yang pada pelaksanaannya menggabungkan tiga latihan sekaligus yaitu meliputi Security Exercise, Building Fire dan Full Scale Exercise of Aircraft Accident.

Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat ini merupakan kegiatan yang rutin diadakan oleh Angkasa Pura Airports, sebagai komitmennya dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi para stakeholder.

Dengan melalui latihan PKD ini, diharapkan agar personel di lapangan selalu sigap dan dapat berkoordinasi secara cepat jika terjadi keadaan darurat, seperti adanya ancaman bom dari teroris atau kebakaran gedung maupun kecelakaan pesawat terbang yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Latihan PKD di Bandara Juanda Surabaya ini, merupakan kali ke empat dan selanjutnya akan diselenggarakan hal serupa di Bandara I Gusti Ngurah Rai bali pada bulan Nopember mendatang sebagai latihan PKD terakhir pada periode tahun 2014.

Konsep skenario yang akan diusung akan lebih dramatis dan lebih besar, mengingat lebih dari 50 persen penumpang pesawat di Bandara tersebut merupakan turis asing dengan kapasitas pesawat yang beroperasi jenis wide body seperti Airbus 330 dan Boeing 777.



Sumber : TNI AL

Upacara Penurunan Ular-Ular Perang KRI Tanjung Fatagar-974

SURABAYA-(IDB) : Kepala Staf Komando Lintas Laut Militer (Kaskolinlamil) Laksamana Pertama TNI Karma Suta, S.E., memimpin pelaksanaan upacara penurunan ular-ular perang KRI Tanjung Fatagar-974 yang merupakan salah satu unsur kapal perang TNI Angkatan Laut di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) sekaligus menandai berakhirnya pengabdian sebagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), bertempat di Dermaga Semampir Koarmatim ujung Surabaya, Rabu (15/10).

Upacara militer yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Arief Rahmat Bintoro yang sehari-hari bertugas sebagai Komandan KRI Teluk Parigi-539, Kaskolinlamil saat membacakan sambutan Pangkolinlamil Laksamana Muda TNI Arie H. Sembiring yang mengatakan, bahwa ular-ular perang merupakan salah satu sarat sebuah kapal menjadi suatu kapal perang yang selalu berkibar di tiang gafel, oleh sebab itu saat ini dapat dijadikan sebagai suatu peristiwa resmi yang menandakan berakhirnya perjalanan sejarah pengabdian sebuah KRI Tanjung Fatagar-974 sebagai unsur kekuatan TNI Angkatan Laut.

Lebih lanjut Kaskolinlamil menjelaskan, bahwa KRI Tanjung Fatagar-974 sebelumnya merupakan kapal Pelni yang bernama KM Rinjani dengan melayani rute pelayaran dalam negeri selama 21 tahun. Kapal ini dibuat di Galangan JOS L Meyer Papenburg Jerman pada 3 Oktober 1983 yang memulai peluncurannya pada 18 Februari 1984. Kemudian dihibahkan kepada TNI Angkatan Laut pada 20 Juli 2005, selanjutnya memperkuat jajaran Kolinlamil sebagai kapal bantu angkut personel dalam operasinya untuk mendukung pergeseran personel dan material untuk Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Mengingat KRI TFG-974 saat ini telah melebihi maksimal batas usianya, untuk itu sudah layak diistirahatkan dalam kenangan bangsa yang penuh dengan kebanggaan dan kejayaan TNI Angkatan Laut.

Dalam upacara penurunan ular-ular perang kapal yang memiliki ukuran panjang seluruh 144 m, lebar 23 m, draft 5,9 m, DWT 3400 ton, GRT 3947,80 ton, dan NRT 8583,82 ton tersebut turut dihadiri oleh Kasarmatim, Danguspurlatim, Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut, Wadan Kobangdikal, Dan Lantamal V, Dan Pusdik Opsla, mantan Komandan KRI TFG-974 serta perwira, bintara, tamtama prajurit Satlinlamil Surabaya.



Sumber : TNI AL

Menengok Megahnya Isi Kapal Perang KRI Makassar

SURABAYA-(IDB) : Saat HUT TNI ke-69 lalu di Markas Komando Armada Timur (Koarmatim) Dermaga Ujung Surabaya, Jawa Timur, puluhan wartawan diizinkan untuk bermalam di kapal perang milik TNI Angkatan Laut. Pewarta pun bisa menikmati indahnya pemandangan Selat Madura dari KRI Makassar-509.

Sekitar 80 orang wartawan dari Jakarta, termasuk 2 wartawan asing, diberikan keistimewaan saat meliput HUT TNI. Para wartawan, termasuk detikcom, difasilitasi menginap selama 2 malam di KRI Makassar.

Wartawan berada di KRI Makassar pada tanggal 3-4 Oktober 2014 dan 6-7 Oktober 2014. detikcom pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mengelilingi kapal perang tersebut. Lalu apa saja isi dari KRI yang dikomandani oleh Letkol Setiyo Widodo itu?

KRI Makassar dibeli dari Korea Selatan pada tahun 2007 lalu. Tak hanya sekedar membeli, TNI AL mengirimkan prajuritnya ke Korsel saat KRI Makassar tengah dalam proses perakitan. Kapal yang saat ini sedang bersandar di Dermaga Ujung Surabaya itu memiliki 8 lantai.

KRI Makassar merupakan sebuah kapal Landing Platform Dock (LPD) dengan fungsi utama mengangkut pasukan serta seluruh perlengkapan dan kendaraan saat perang. "Geladak L (Lombok) paling bawah isinya mesin. (Di atasnya) geladak K (Kendal). Ada tank deck di situ yang bisa memuat 25 tank dan ranpur (kendaraan tempur)," ujar Letkol Setiyo di KRI Makassar, Senin (6/10/2014).



Di geladak K ini terdapat sebuah dock well sebagai tempat menyimpan kapal LCU (Landing Craft Utility). LCU ini merupakan kapal pendaratan serbaguna jika KRI Makassar tidak memungkinkan untuk merapat di sebuah daratan yang sulit terjangkau.

"LCU untuk pendaratan pasukan ke pulau-pulau kecil. Bawa rampur, tank, truk, personel. Di geladak setelahnya, geladak J (Jepara) isinya itu 8 barak pasukan," kata Setiyo.

Tepat di atas geladak J terdapat geladak H (Halong) yang dapat dibilang sebagai lantai dasar KRI. Jika penumpang naik melalui tangga dari luar kapal, maka geladak ini yang pertama kali ditemui.

Di geladak ini ada sebuah pos penjagaan prajurit dan car deck tempat memarkirkan mobil-mobil. Buritan kapal juga berada di geladak ini. Di tiap geladak yang memiliki barak, kamar mandi khas prajurit disediakan. Saat masuk ke dalam kamar mandi, ada sekat-sekat dengan masing-masing pancuran untuk prajurit mandi.

"Ada 2 barak pasukan juga dan buritan. Buritan untuk menempatkan tambatan-tambatan kapal. Ini adalah geladak parsial karena di sini tempat haluan yang merupakan tempat tambang tambatan kapal juga, ada rantai jangkar besar. Alat tambatnya namanya moring," ungkap Setiyo.

Dapur juga berada di bagian dek ini, ranpur dan 14 mobil bisa diparkirkan di sini. Selain itu, di geladak ini juga terdapat LCVP (landing craft vechicle person) yaitu kapal khusus untuk kendaraan personel. Ruang senjata juga berada di geladak H. Sayang saat detikcom meninjaunya senjata sedang tidak berada di ruangan tersebut.

"Senjata dan amunisi di tempat lain. Rahasia. Tidak boleh semua orang masuk. Di geladak ini juga ada komandemen, semacam ruang office, dan klinik kesehatan, hampir seperti RS kecil," Setiyo menuturkan. Saat detikcom sedang mengelilingi kapal, sejumlah prajurit jaga sedang bertugas mengecek kapal. Ronda malam dilakukan setiap hari tepat pukul 21.00 WIB.

"Ya dicek tali-talinya, bagus nggak tambatannya. Kalau lepas nanti kapal kan bisa lari. Ngecek dapur, ruangan senjata, amunisi juga," jelas seorang prajurit saat ronda malam, Senin (6/10/2014).

Naik ke atas geladak H adalah geladak G (Garut) yang terdapat 15 barak untuk pasukan. Tempat makan dan lounge room untuk prajurit. Di geladak ini area santai terpusat. Terdapat ruang semi outdoor yang dijadikan sebagai ruang olahraga sekaligus tempat untuk berkaraoke bagi pasukan.

Helipad juga berada di dek ini dan karena di area helipad merupakan ruang terbuka maka penumpang diperbolehkan untuk merokok di situ selama tetap menjaga kebersihan kapal.

"Di kapal ini ada 600 pasukan yang siap tempur," tegas Setiyo ketika berbincang dengan detikcom di lokasi.

Kembali mengenai KRI Makassar, di atas geladak G adalah geladak Flores (F) yang diperuntukkan bagi para perwira dan pejabat kapal. Ada 20 kamar yang disediakan untuk perwira. Isi kamar pun bermacam-macam. Ada 1 kamar yang bisa diisi oleh 6 orang dengan 3 kasur tingkat.

Ada yang hanya berisi 1 kasur tingkat untuk 2 orang yang dilengkapi kamar mandi dalam. Juga ada kamar berisi 1 orang yang diperuntukkan bagi perwira tinggi. Di tiap-tiap kamar bagi perwira disediakan kursi santai dan meja kerja sekaligus lemari yang di dalamnya disediakan jaket pelampung.



Dari geladak ini, tepatnya di ruang smooking room, penumpang bisa melihat indahnya kerlap-kerlip lampu Jembatan Suramadu dari tempat KRI Makassar bersandar kini.

Di geladak ini pun terdapat lounge khusus untuk perwira dan tamu VIP. Lounge di sini lebih luas dan nyaman dibandingkan louge untuk prajurit. Selain berderet beberapa meja bundar yang dikelilingi oleh kursi-kursi untuk perwira makan, ada sofa khusus bagi tamu VIP.

TV besar layar datar dengan sound system canggih juga disediakan di lounge ini. Di bagian deck ini pula 2 kamar VIP berada. Kamar ini dipergunakan untuk Presiden atau pejabat jika menginap di KRI Makassar.

"Presiden SBY dan Ibu Ani tidur di kamar VIP ini waktu Latgab TNI dan Sail Raja Ampat lalu," cerita Setiyo mengenai kamar berukuran 5x10 meter itu.

Berbeda dengan kapal pesiar, kamar VIP di kapal perang ini terlihat lebih sederhana. Memang ada 2 ruangan di dalamnya, yakni ruang tamu dan ruang tidur. Ruang tamu berisi sofa-sofa dan meja bewarna cokelat, meja kerja, dan kulkas.

 Kamar mandi yang berada di bagian ruang tamu juga tak bisa dibilang istimewa. Meski kecil dan tanpa bath-up, kamar mandi terlihat cukup nyaman. masuk ke dalam ruang tidur, kasur single disediakan di kamar VIP ini.

Sisanya adalah hanya lemari, bangku, kaca, dan meja rias kecil. Di dekat kamar VIP ini terdapat sebuah pintu khusus untuk tempat masuk atau keluar bagi Presiden dengan karpet merah di lantai tangganya.

"(Kamar VIP) ini tidak hanya untuk Presiden. Bisa untuk pejabat lain, Panglima atau kepala staf TNI. Tapi dikhususkan untuk Presiden," tukas Setiyo. Berlanjut ke di atas Flores ada Deck E (Ende) yang merupakan tempat pengawas kapal. Selain terdapat anjungan tempat operasional kapal, di geladak ini lah life craft ditempatkan.

Life craft merupakan tempat penyimpanan 20 sekoci penolong yang berada di bagian sayap kanan dan kiri kapal. Selain itu ruang amunisi dan pusat informasi tempur juga berada di geladak ini. Selain sekoci, terdapat suplai makanan bagi prajurit di dalam life craft jika sesuatu hal buruk terjadi.

Geladak paling atas adalah Deck D (Demak) yang merupakan geladak isyarat, di mana merupakan tempat orang-orang berkomunikasi dengan isyarat di lautan. Selain ada lampu-lampu, tanda isyarat, dan bendera-bendera, persenjataan pun berada di geladak ini.
 


"Senjata Orlicon 20mm (senjata konvensional), Mistral, (meriam) kaliber 57 (di sisi) haluan," ungkap Setiyo menjelaskan tentang senjata yang ada di KRI Makassar.

KRI Makassar juga dilengkapi ruang CIC untuk sistem kendali senjata (fire control system) serta sebagai alat komunikasi dengan kapal-kapal jenis kombatan lain untuk melindungi pendaratan pasukan dan ranpur serta pengendalian pendaratan helikopter.

Tak heran helipad tersedia di kapal perang tersebut. KRI Makassar ini juga difungsikan untuk operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana alam, dan Kapal Rumah Sakit.

"Waktu bencana gempa padang, bencana di Sorong, ke Philipina waktu bencana badai," tutup Setiyo.

Tak semua orang bisa masuk ke kapal perang AL ini. Melihat kekuatan alutsista TNI membuat masyarakat mempercayakan keamanan bangsa dan negara di tangan handal para prajurit. Dirgahayu TNI, jaya lah selalu.



Sumber : Detik

Terhempas Ombak, Satu Kapal Perang Hampir Menabrak Dermaga

SURABAYA-(IDB) : Sebuah kapal perang TNI AL hampir saja menabrak Dermaga Ujung Armatim pada perayaan HUT TNI ke-69, Selasa (7/10/2014).

Kapal yang termasuk iring-iringan parade tersebut terempas ombak besar setelah kapal perang yabg ukurannya lebih besar melintas cepat.

Para perwira yang melihat di ujung dermaga sampai semburat berlari ketika kapal ini hampir menabrak dermaga. Beruntung, kapal tak menabrak dermaga tersebut.

Saat dikonfirmasi, Kadispen Armatim Letkol Laut (KH) Drs Abdul Kadir mengatakan kapal yang hampir menabrak dermaga itu tidak termasuk kapal iring-iringan parade. Kapal itu bertugas menjaga pantai yang terempas terkena terjangan ombak.

"Kapalnya mengapung, jadi bergerak sendiri karena ombak," kilah Kadir.



Sumber : Tribunnews

Kembali TNI AL Kirim KRI SIM Ke Lebanon

SURABAYA-(IDB) : TNI mengirim kapal perang jenis Sigma KRI Sultan Iskandar Muda dengan nomor lambung kapal 357 ke Libanon, Jumat, 10 Oktober 2014. KRI Sultan Iskandar Muda menggantikan misi yang dijalani KRI Frans Kaisiepo. Kapal tersebut sempat terlibat dalam gelar kekuatan dalam rangka HUT TNI ke-69 pada Selasa, 7 Oktober 2014.

"Siang ini, KRI Sultan Iskandar Muda menggantikan tugas KRI Frans Kaisiepo di perairan Lebanon," kata Panglima Armada RI Wilayah Timur Laksamana Muda TNI Sri Mohammad Darojatim setelah melepas KRI Sultan Iskandar Muda di Dermaga Ujung atau yang biasa disebut Dermaga Madura, Surabaya, Jumat, 10 Oktober 2014.

Darojatim menuturkan misi yang dibawa KRI Sultan Iskandar Muda adalah perdamaian, bersama militer angkatan laut negara lain di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kapal perang bermanuver tinggi dan tergolong baru di antara armada kapal perang RI itu berkekuatan sekitar 101 prajurit dan akan bertugas sekitar delapan bulan.

Helikopter jenis Bolco NV 410 dari skuadron 400 juga dibawa serta. Kopilotnya, Letnan Satu Laut Alkautsar, mengatakan helikopter akan membantu mengawasi di perairan Libanon. "Kami hanya tugas perdamaian, bukan tugas tempur," ujarnya.



Sumber : Tempo

Eskalasi Ancaman Meningkat, TNI AL Harus Diperkuat

JAKARTA-(IDB) : Melihat realitas pembangunan pertahanan wilayah laut yang cenderung lambat ketimbang daratan menjadi sorotan tajam beberapa pengamat. Tidak ketinggalan pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas NH Kertopati, saat dihubungi JMOL beberapa waktu lalu.

“Seharusnya dari dulu sudah dilaksanakan pembangunan matra laut, tapi selama ini penguatan teritorial wilayah darat lebih cepat, seharusnya berjalan simultan dan linier,” ujar mantan anggota DPR RI Komisi I Fraksi Hanura itu.


Terakhir kali besarnya pembangunan matra laut pada era Bung Karno tahun 1960-an. Pasca itu, pembangunan matra laut tidak menjadi prioritas. Lebih lanjut, wanita yang akrab disapa Nuning tersebut menjelaskan, itu semua kembali lagi pada visi pertahanan dari kepala negara.


“Ya itu kan terkait dengan visi pertahanan negara kita, kan? Memang meski darat dan udara juga harus diperkuat sistem pertahanannya, tapi kita memerlukan suatu penguatan khusus di matra laut,” tutur Nuning.


Menurutnya, alasan itu diperkuat dengan kondisi geografis Indonesia yang memiliki 17.499 pulau. Terdapat 92 pulau terluar dan 12 pulau di antaranya merupakan pulau-pulau strategis yang tersebar di sepanjang perbatasan dengan negara tetangga, serta digunakan sebagai titik-titik batas terluar (base point) pengukuran batas wilayah NKRI dengan negara tetangga.


“Terkait dengan fungsi pertahanan dan keamanan negara, kedudukan pulau terluar merupakan beranda Nusantara yang harus terus dipantau dan diawasi,” ucapnya.


Harapan Pemerintahan Baru


Konsentrasi pembangunan matra laut pada pemerintahan Jokowi sangat terbuka lebar, mengingat pemerintahan ini memiliki konsep Poros Maritim Dunia.


“Ke depan, Pak Jokowi akan serius menangani masalah maritim, tentu hal-hal yang penting untuk mendukung programnya perlu kedepankan dan laksanakan,” tambahnya.


Menurut dosen Universitas Pertahanan ini, perlu ada konsentrasi khusus kepada TNI AL untuk pemerintahan ke depan mengingat eskalasi ancaman melalui zona jalur laut di prediksi meningkat.


“Eskalasi ancaman ke depan akan semakin meningkat, sehingga butuh penjagaan ketat terhadap keutuhan NKRI dengan cara memperkuat TNI AL,” pungkasnya.


Penguatan TNI AL agar menjadi berkelas dunia memiliki unsur-unsur, yaitu penguatan organisasi, SDM, teknologi, dan operasi, sehingga dalam pencapaian Renstra II tahun 2015-2019 nanti, pembangunan itu harus menjadi prioritas, sebagaimana sejalan dengan visi maritim pemerintah.



Sumber : JurnalMaritim

Kunjungan Ke KRI Bung Tomo 357

Trio MLRF with Sigma (photo: Ari / Jakartagreater.com) SURABAYA-(IDB) : Pertama kali menginjakan kaki di geladak KRI TOM-357, kami disambut oleh petugas jaga piket yang ramah dan mempersilahkan JKGR untuk melihat lihat isi KRI TOM didampingi seorang Prajurit Laut yang menemani JKGR.

Sore itu suasana udara Surabaya masih terasa panas dan kami sempat melirik papan pengumuman di pos jaga yang menyatakan Komandan Kapal sedang tidak berada di dalam kapal alias keluar.


JKGR tak menyia-nyiakan waktu untuk bisa memfoto kelengkapan KRI TOM dan Arsenalnya. Beberapa senjata memang dalam kondisi ditutupi dengan terpal (casing), sehingga kami tidak jadi mengabadikannya karena akan terasa kurang menarik. Sebagai gantinya kami abadikan senjata 3 matra KRI TOM yang multirole yaitu anti permukaan, anti udara dan anti bawah permukaan (kapal selam), dan juga radar radarnya, beserta hal unik yang ada di KRI TOM.


Kami sempat berpikir kenapa launcher Exocet blok 2 cuma terpasang dua dari 4 bracket penyangga yang tersedia, sedangkan kami juga tidak mendapatkan keterangan tentang type Launcher dan Torpedo yang terpasang di geladak KRI TOM.



imagePuas berphoto ria terdengar Oemroep yang mengatakan bahwa Komandan Kapal sedang memasuki Kapal dan ada harapan untuk bertemu Kolonel Laut Yayan Sofyan, ST. Setelah sempat menunggu, kami sapa Pak Yayan saat keluar dari Anjungan, ngobrol sebentar dan foto bersama. Kami dipersilahkan memasuki anjungan yang ternyata udaranya dingin karena ber-AC dan kami ngobrol lepas.


Perwira Menengah lulusan AAL angkatan 39 thn 1993 ini adalah Perwira yang mudah bergaul, tegas dan juga ramah. Beliau mempersilahkan kami wawancara walaupun tidak ada janji sebelumnya.


Kolonel Yayan sempat bingung Jakarta Greater itu media apa dan di mana. Setelah kami jelaskan dan dibantu oleh staffnya, beliau mengerti dan terus melanjutkan wawancara. Saya sempat tersenyum dalam hati mengingat warjager sempat mengasumsikan bahwa Kolonel Yayan Sofyan adalah salah satu sesepuh Warjag yaitu Bung Yayan Supriatna. Realitanya beliau tidak tahu Jakarta Greater.


Kami sampaikan ke Kolonel Yayan bahwa dia begitu terkenal di media kami dan kami adalah salah satu media yang tahu duluan mengenai kepastian mengakuisisi MLRF ini dari Sumber Kemenhan.


Kolonel Yayan menceritahkan pengalamananyya membawa KRI ini dari Inggris sampai ke tanah air dan yang saya tanyakan apa yang paling berkesan saat berlayar mengawaki KRI TOM. Beliau menjawab semuanya berkesan. Mantan Komandan Satkor Koarmatim dan juga Mantan Komandan Kapal jenis SIGMA KRI Frans Kaisepo 368 ini meneruskan wawancara.


 Kolonel Laut Yayan Sofyan, ST (photo: Ari / Jakartagreater.com)Routee Pelayaram KRI TOM dimulai dengan Kapal meninggalkan pelabuhan dermaga Portland (Inggris) setelah menjalani Sea Demonstrations di area Royal Navy Exercise Perairan Glasgow, Inggris dan membuat pemberhentian dan berkunjung di Malaga (Spanyol). Dari Malaga, KRI Bung Tomo melanjutkan perjalanan ke Civitavecchia (Italia), Port Said (Mesir), Jeddah (Saudi Arabia), Salalah (Oman), Cochin (India), dan Jakarta untuk mengakhiri perjalanan mereka di Surabaya.


Saat kunjungan Ke Malaga diadakan acara ramah tamah di geladak KRI Bung Tomo 357 yang juga dihadiri Komandan Angkatan Laut Kerajaan Spanyol di Malaga, Kol (L), José Luis García Velo termasuk menjalankan Misi Diplomatik. Saat di Spanyol, Kolonel Sofyan menyampaikan pidatinya dengan berbahasa Spanyol.


JKGR sempat bertanya, lebih canggih mana KRI TOM dan KRI jenis Sigma ?. Kolonel Yayan memberikan jawaban klise tidak mau membandingkan karena beliau juga mantan Komandan Kapal Sigma.


Beliau hanya menjelaskan bahwa MRLF ini canggih karena semua sistem pengoperasiannya sudah computerized dan juga bisa dioperasikan secara manual.


Pak bagaimana bila sebagai satuan pemukul Tiga MLRF kelas bung Tomo bersanding dengan empat Sigma class di gugusan terdepan ?. Beliau menjawab kekuatannya akan sangat dahsyat dikarenakan terintegrasinya CMS ke tujuh KRI tersebut, apalagi bila nanti PKR 10514 sudah jadi.


Kolonel ijinkan kami bertanya lagi, tentang senjata yang masih dibingungkan oleh teman teman di Warjag. Sebenarnya yang digendong ini masih Exocet Blok 2 atau blok 3 ? dan VLS nya masih memakai Seawolf atau sudah diganti dengan MICA ?. Kolonel Yayan tersenyum dengan berondongan pertanyaan kami yang menggebu dan terkesan penasaran banget. Beliau berkata untuk saat ini KRI TOM memang membawa semua yang ada dari Inggris berupa Exocet blok 2 dan VLS nya masih memakai Sea Wolf. Kami kejar terus, kapan Seawolf mau diganti, dikerjakan dimana dan oleh siapa ?. Lagi lagi Kolonel yang ramah ini tersenyum dan memberikan jawaban, dia sebagai user tidak tahu kapan akan diganti dan akan diganti dengan apa.


Vertical Launcher System KRI Bung TOM “Kami serahkan keputusan pada pimpinan dan Kemenhan. Bagi kami Prajurit adalah selalu siap menjalankan tugas dan bersyukur sudah diberi alutsista yang mumpuni dan diberi kepercayaaan oleh bapak Pimpinan untuk Mengawaki MRLF ini”, ujar Kolonel Yayan.


Beliau berterimakasih kepada KSAL Laksamana Marsetio yang sudah memberikan kepercayaan dan mandat untuk Mengawaki KRI TOM dan juga kepercayaan bagi rekan seangkatan Kolonel lulusan AAL Angkatan 39 thn 1993 yang juga mengawaki KRI Usman harun dan KRI John Lie. Penerima Adi Makayasa Lulusan Akabri Laut/AAL atau Lulusan Terbaik AAL thn 1993 adalah Komandan Kapal KRI Usman Harun.


JKGR melirik jam tangan dan melihat waktu kunjungan yang sudah mepet karena sudah dipesan petugas, jam 5 Sore harus sudah meninggalkan Zona terlarang ini. Sebenarnya masih belum tuntas apa yang ingin kami ketahui tentang KRI TOM yang sangat membanggakan kami sebagai rakyat.



KRI Bung Tomo - 357 bersandar di Koarmatim, Demaga Ujung, Surabaya, Jawa Timur 9/10/2014 (photo: Ari / JakartaGreater.com)Kami berpamitan kepada Kolonel Yayan Sofyan dan beliau berjanji akan membaca JKGR. Stafnya juga diperintahkan untuk mengecek media ini. Kami sebenarnya masih ingin mewancarai beliau dan juga Komandan KRI John Lie, KRI Usman Harun dan Komandan KRI lainnya. mungkin nanti dikesempatan yang lain.

Terimakasih Kolonel Laut Yayan Sofyan ST yang mau menerima kami dan meluangkan waktu untuk wawancara. Terimakasih KSAL dan Pangarmatim untuk Open Ship 8 Oktober 2014. Terimakasih Pak Satrio yang mengoreksi dan membimbing reportase ini.

 
Kita sudah sering melihat KRI Bung Tomo 357 buatan Inggris ini, namun belum tahu seperti apa isi KRI ini dan juga persenjataannya. Ari, biro JKGR Surabaya, akan mengajak warjags untuk melihat lihat isi dari kapal perang TNI AL yang baru ini.
 2 x triple BAE Systems 324mm torpedo tubes untuk menghancurkan sasaran di atas maupun di bawah air. (Ari Jkgr Biro Surabaya)

16 VLS untuk meluncurkan MBDA (BAE Systems) Sea Wolf surface-to-air missile. (Ari Jkgr Biro Surabaya).

2 x 4 Quad untuk meluncurkan 8 misil MBDA (Aerospatiale) Exocet MM40 Block II. (Photo: Ari Jkgr Biro Surabaya).

 Oto Melara 76mm gun.

 BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band air and surface radar.

image
 BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band air and surface radar.

 2 x MSI Defence DS 30B REMSIG 30mm guns

 Pintu masuk anjungan

Meja Piket jaga

 Ultra Electronics/Radamec Series 2500 electro-optic weapons director.

Ari JKGR Surabaya bersama Kolonel Yayan

image




















Sumber : JKGR

Masalah Teknis, KRI Teluk Bintuni 520 Absen Di HUT TNI

LAMPUNG-(IDB) : KRI Teluk Bintuni 520 absen dalam parade alutsista yang menjadi bagian perayaan HUT TNI ke-69 secara nasional di Surabaya kemarin, Selasa, 7 Oktober 2014. Hal ini diungkapkan Direktur Utama PT Daya Radar Utama (DRU) Lampung A Harryadi P (40) dan Ketua Satuan Tugas (Satgas) TNI AL Kolonel Laut (P) M Setiadiono Rianto kepada Saibumi.com.

“Iya, memang KRI Teluk Bintuni tidak ikut karena masalah teknis. Maklum kapal baru dan memang belum sempurna operasional mesinnya walau sudah memakai tenaga langsung dari Korea. Itu yang menyebabkan tidak cukup waktu KRI Teluk Bintuni untuk berlayar ke Surabaya dan telah dilaporkan pada 2 Oktober lalu ke Kementerian Pertahanan,” kata Setadiono kepada Saibumi.com.

Sementara, Direktur Utama PT DRU Lampung A Harryadi P (40) menjelaskan masalah teknis tidak berangkatnya KRI Teluk Bintuni 520. "Iya, Bintuni tidak jadi ikut ke Surabaya. Saat Bintuni siap, waktu berlayarnya tidak cukup. Dari Rabu sudah persiapan buat berlayar. Sabtu sudah coba untuk berlayar, tapi belum sesuai harapan. Karena berhubung mesin utamanya ini canggih, serba elektronik, all computerized, jadi kita menunggu settingan install dari pembuat mesinnya. Karena Bintuni pakai mesin yang tidak biasanya. Kalau pakai mesin yang biasa seperti kapal perang lain mungkin waktunya tidak selama ini," kata Harry. PT DRU Lampung mendatangkan langsung dua orang teknisi mesin kapal yang asalnya dari Korea Selatan dilakukan untuk "mengawal" langsung masalah mesin tersebut.

"Tapi in the end, saat Bintuni dinyatakan sudah siap, ternyata waktu tidak cukup. Begitu Minggu kita laporkan ke Jakarta kapal siap berangkat waktunya tidak memungkinkan untuk tiba ontime di Surabaya," katanya lagi. Kapal perang biasa butuhkan waktu minimal 2×24 jam menuju Surabaya dari Lampung. "Bintuni ini kapal perang yang cepat karena kekuatan mesinnya. Untuk ke Surabaya, Bintuni hanya butuh 34 jam," ujarnya lagi.

Lebih lanjutnya, proses trial dock sudah dicoba dilakukan sejak Sabtu (4 Oktober 2014). “Coba mooring trial (kapal dicoba maju mundur) dan berhasil. Besoknya dicoba dock trial dengan tahapan test untuk mesin, yang awalnya memang kurang sempurna tapi kami mengetahui penyakitnya dan bisa memperbaikinya. Bukan hanya mesin yang harus disempurnakan, tetapi juga sistem lainnya diuji coba karena saling berkaitan. Uji coba kontrol kapal dari ruang mesin dan anjungan berhasil dilakukan. Antisipasinya banyak karena kapal mau long trip dan harus siap dengan kemungkinan yang buruk termasuk kalau tiba-tiba mogok dit engah laut,” bebernya.

Semua proses percobaan berlayar dilakukan oleh kru PT DRU Lampung sendiri. “Minus Satgas dan ABK asli karena kapal ini statusnya masih milik PT DRU. Kami juga harus lakukan berbagai tahap penyempurnaan. Jadi, sebenarnya pada waktu kapal dinyatakan sudah siap untuk berangkat tapi waktunya sangat riskan hingga akhirnya memutuskan untuk tidak memberangkatkan Bintuni ke Surabaya,” pungkasnya.

Sebelumnya, KRI Teluk Bintuni 520 yang dibuat di Lampung dijadwalkan untuk mengikuti parade sistem persenjataan yang dimiliki Indonesia saat HUT TNI di Surabaya. Saat Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan nama KRI Teluk Bintuni 520 di Lampung pertengahan September lalu, Purnomo menyebutkan bahwa kapal jenis Landing Shift Tank ini akan menjadi maskot kapal perang produksi dalam negeri.


Faktor Keselamatan Membuat KRI Teluk Bintuni 520 Tidak Berlayar 

Faktor keselamatan (safety), yang membuat KRI Teluk Bintuni 520 tidak diberangkatkan ke Surabaya untuk menjadi peserta parade sistem persenjataan TNI sebagai rangkaian HUT TNI ke-69 di Surabaya, Selasa 7 Oktober 2014. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Daya Radar Utama (DRU) Lampung Albertus Harryadi Prananto (40) pada Saibumi.com saat ditemui langsung diruang kerjanya.

“Tanggung jawab moral untuk mengutamakan faktor keselamatan (safety) dari 135 orang yang akan mengoperasionalkan kapal ke Surabaya. Selain itu juga mengutamakan keselamatan kapalnya yang masih dalam tanggung jawab besar dari PT DRU jangan sampai terjadi sesuatu,” katanya.

Berdasarkan MoU dengan pihak pemesan yakni Kementerian Pertahanan, PT DRU Lampung mempunyai waktu hingga akhir tahun untuk menyelesaikan pembangunan KRI Teluk Bintuni 520 hingga sempurna sebelum diserahterimakan. “Permintaan dari pihak Kemenhan dan Kepresidenan kami penuhi sebaik mungkin. Sudah all out semua bagian PT DRU dalam mengambil keputusan dan tindakan mempercepat pembangunan kapal. Faktor safety baik dari segi manusia dan kapalnya, terutama dibagian mesin yang akhirnya tidak memberangkatkan KRI Teluk Bintuni 520,” jelas Harryadi.

Walaupun tidak jadi tampil di Surabaya, menurut Harryadi, kapal perang jenis Landing Shift Tank terbesar ini tetap menjadi kebanggaan Provinsi Lampung. "Tetap jadi kebanggaan karena pertama kali dibuat oleh galangan swasta untuk ukuran kapal perang Angkatan Laut. Mudah-mudahan selanjutnya kita dapat kesempatan lagi dari Angkatan Laut. Semoga AT-4 (Angkut Tank - 4) bisa dikerjakan disini lagi,” harapnya.

“Kalau masyarakat ada yang kecewa karena tidak jadi tampil (KRI Teluk Bintuni 520) kami mohon maaf. Kami sudah do the best that we can do karena dibalik itu semua, saya pribadi harus memperhatikan, mengutamakan, memikirkan keselamatan orang dan kapal selama sailing ke Surabaya,” tegasnya.

Sebelumnya, KRI Teluk Bintuni 520 telah dijadwalkan menjadi maskot dalam parade HUT TNI ke-69 di Surabaya. Kapal perang ini sedianya menjadi perwakilan kapal perang dari pemerintah Indonesia yang menerapkan program pembuatan sendiri alutsista. Dimulai dengan menggandeng pihak swasta nasional yang dikerjakan oleh PT DRU Lampung.



Sumber : Saibumi

Perairan Regional Akan Dijangkau TNI AL

JAKARTA-(IDB) : Sejalan dengan visi TNI AL, perairan regional di barat akan juga dijangkau TNI AL, di antaranya oleh jajaran Gugus Tempur Laut Komando Armada Indonesia Kawasan Barat TNI AL. Perairan yang dimaksud itu juga termasuk sebagian Samudera Hindia timur.

"Oleh sebab itu, gugus tempur ini harus mampu meningkatkan manajemen kinerja yang efektif dan efisien," kata Panglima Komando Armada Kawasan Barat Indonesia TNI AL, Laksamana Muda TNI Widodo, dalam sambutan pada serah terima jabatan komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada Indonesia Kawasan Barat TNI AL.

Pejabat lama adalah Laksamana Pertama TNI Didik Setiyono kepada Kolonel Pelaut TSNB Hutabarat, di Markas Komando Armada Kawasan Barat Indonesia TNI AL, Jakarta, Kamis.

Komando Armada Kawasan Barat Indonesia TNI AL membawahkan beberapa satuan, yaitu Gugus Tempur, Gugus Keamanan, Satuan Pasukan Katak, dan pangkalan-pangkalan.

TNI AL telah menetapkan visinya menjadi angkatan laut berkelas dunia, yang tidak hanya modern dari sisi arsenal dan perlengkapan perang, namun juga dari sisi personel, organisasi, dan kemampuan operasi.

"Ke depan, Gugus Tempur Laut Komando Armada Kawasan Barat Indonesia TNI AL beroperasi di kawasan regional," katanya.



Sumber : Antara