Showing posts with label TNI AL. Show all posts
Showing posts with label TNI AL. Show all posts

TNI AL Pesan 4 Kapal Perang Trimaran

BANYUWANGI-(IDB) : TNI Angkatan Laut terus melengkapi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista). Terbaru adalah pembuatan Kapal Cepat Rudal (KCR) berlambung tiga (Trimaran) 63 meter. Kapal tersebut diproduksi oleh PT Lundin Industry Invest yang berbasis di Banyuwangi.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr Marsetio meninjau proses pembuatan kapal tersebut di Pantai Cacalan, Banyuwangi. Turut mendampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi Letkol Laut (P) Edi Eka Susanto, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Mangapul Hutajulu, dan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi I Made Parma.

"Ini merupakan salah satu kunjungan ke galangan kapal kebanggaan nasional karena di sinilah Kapal Trimaran dibuat. Ini juga menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi, karena ternyata daerah di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu produsen alat pertahanan negara,” kata Marsetio, Jumat (24/10/2014).

Marsetio mengatakan, Kapal Trimaran yang terbaru ini merupakan yang pertama di Asia. Selain bekerja sama dengan Swedia, dalam pembuatan desain Trimaran, TNI Angkatan laut juga melibatkan BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional seperti PT PAL (Persero) dan PT Pindad (Persero).

"Untuk tahap pertama, TNI AL memesan empat kapal. Sekarang di sini sedang dibuat yang pertama," ujar Marsetio.

Desain KCR Trimaran yang terbaru ini sedikit berbeda dengan Kapal Trimaran yang sebelumnya. Kapal terbaru ini akan terbuat dari bahan tahan api dan anti-radar.

"Kapal ini tidak hanya akan dipakai di dalam negeri, tapi akan menjadi salah satu produk pertahanan unggulan yang akan dijual ke luar negeri. Seperti kapal LPD yang diproduksi PT Pindad sudah dipesan oleh Angkatan Laut Filipina. Nanti kapal ini juga akan kita jual ke luar negeri," imbuh Marsetio.

Bupati Anas mengaku bangga karena kapal canggih itu diproduksi di Banyuwangi dengan sinergi swasta dan BUMN di bidang industri pertahanan. "Industri pertahanan adalah industri strategis bagi bangsa. Banyuwangi ikut bangga," katanya.

Selain industri pertahanan, mobil listrik berukuran mini juga segera diproduksi di Banyuwangi. Produksi ini melibatkan teknologi Swedia di PT Lundin Industry yang berbasis di Banyuwangi.

"Dubes Swedia dalam waktu dekat ini akan ke Banyuwangi. Saya berharap ada transformasi teknologi, pengetahuan, budaya inovasi bagi kami yang ada di Banyuwangi," tutur Anas.




 Sumber : Detik

KRI Teluk Ratai-509 Uji Artileri Gun Exercise

KJ-(IDB) : Salah satu Kapal perang di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) yakni KRI Teluk Ratai (TRT)-509 menggelar uji tembak menggunakan meriam kaliber 37 mm dalam latihan Artileri Gun Exercise, di Pulau Gundul, Perairan Karimun Jawa, Senin (20/10/2014).

Kapal perang yang sehari-hari berada di bawah binaan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Surabaya dan dikomandani oleh Letkol Laut (P) Tarus Rostiyadi ini berada di Pangkalan Jakarta usai mendukung operasi Angkutan Laut Militer (Anglamil) pergeseran material Alutsista TNI Angkatan Darat dalam rangka HUT ke-69 TNI.

Menurut Komandan Satlinlamil Surabaya Kolonel Laut (P) Bambang Irawan, S.E., bahwa setiap melaksanakan pelayaran, semua kapal perang di jajaran Satlinlamil Surabaya ditekankan untuk mengadakan latihan Artileri atau Meriam Kapal, bertujuan menguji tingkat kesiapan persenjataan serta penguasaan prajurit terhadap persenjataan yang ada dan diharapkan dengan latihan yang terus-menerus dan berkesinambungan, baik terencana maupun tidak terencana, dapat meningkatkan profesionalisme prajurit.

Senada dengan Dansatlinlamil Surabaya, Komandan KRI TRT-509 mengatakan, tujuan digelarnya latihan menembak dari jarak 4 ribu-5 ribu yard atau 2-3 mil tersebut untuk melatih dan meningkatkan profesionalisme masing-masing prajurit matra laut, khususnya personel KRI TRT-509. Selain itu, untuk memperlihatkan bahwa kapal perang berjenis Landing Ship Tank buatan Amerika Serikat pada 29 April 1944 dan bertonase 4080 ton ini selalu dalam keadaan siap setiap saat mengawal NKRI.




Sumber : TNI AL

6 Menteri Dapat Penghormatan Brevet Hiu Kencana Di Kapal Selam

SURABAYA-(IDB) : Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio menyematkan brevet Hiu Kencana kepada 5 menteri dan 1 pejabat setingkat menteri yang dianggap sebagai figur pendorong kelancaran tugas-tugas pokok TNI AL, khususnya terhadap pengadaan kapal selam atau alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Penyematan tersebut diberikan kepada Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar, serta Kepala BIN Letnan Jenderal TNI (Purn) Marciano Norman, yang dilaksanakan di perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dengan menggunakan Kapal Selam KRI Nanggala-402.

Menurut KSAL Laksamana TNI Marsetio, penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana merupakan salah satu bentuk penghormatan, rasa terima kasih dan penghargaan dari jajaran TNI AL kepada mereka dalam upaya turut serta membesarkan dan memajukan TNI AL, terutama, berpartisipasi demi kemajuan pengembangan kapal selam ataupun alutsista, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Dengan diangkatnya keenam menteri tersebut sebagai warga kehormatan kapal selam, maka hingga saat ini sudah ada 142 pejabat yang diangkat menjadi warga kehormatan kapal selam dan berhak menerima brevet kehormatan Hiu Kencana," tuturnya di Koarmatim Surabaya, Sabtu (18/10/2014).
 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, untuk menjaga laut Indonesia yang luasnya 5,8 juta kilometer persegi, maka TNI AL harus mempunyai lebih banyak kapal selam atau alutsista.

"TNI AL harus diberikan lebih banyak alutsista, supaya bisa menjaga dan mempertahankan laut Indonesia," kata Sharif.

Brevet Hiu Kencana merupakan simbol pengakuan terhadap profesionalisme prajurit kapal selam, dalam taktik dan teknik peperangan bawah permukaan laut, yang dapat menumbuhkan kebanggaan dan jiwa korsa bagi para pemakainya.

Sedangkan KRI Nanggala-402 mencatat keberhasilan dalam penugasannya antara lain saat terlibat dalam latihan bersama US Navy dengan nama sandi Cooperation Afloat Readiness dan Training (CARAT-8/02) yang diadakan di perairan Laut Jawa dan Selat Bali 27 Mei-3 Juni 2002.

KRI Nanggala-402 juga terlibat dalam latihan operasi laut Gabungan (Latopslagav) XV/04 di Samudera Hindia 8 April hingga 2 Mei 2004. Kapal selam yang ditenagai oleh mesin diesel elektrik dan memiliki kecepatan 21,5 Knot ini juga berhasil menenggelamkan eks KRI Rakata sebuah kapal tunda samudera buatan 1942 dengan Torpedo SUT. 



Sumber : SCTV

KRI Teluk Cirebon 543 Patroli Laut Kalbar

PONTIANAK-(IDB) : KRI Teluk Cirebon 543 melakukan patroli pengamanan di perairan laut Kalimantan Barat dan Indonesia umumnya, kata Komandan KRI Teluk Cirebon 543 Mayor Laut (P) Arif Prasetyo I.

"Selain melakukan operasi pengamanan perairan Kalbar dan Indonesia umumnya, kami juga siap melakukan operasi bantuan kemanusiaan, seperti operasi bantuan bencana alam tsunami," kata Arif Prasetyo I saat dihubungi Antara, Kamis.

Ia menjelaskan patroli di laut guna menekan seminimal mungkin aktivitas ilegal di laut.

"Minimal dengan kehadiran kami, bisa menekan aktivitas ilegal seperti pencurian ikan di perairan Indonesia nelayan asing," ungkapnya.

KRI Teluk Cirebon 543 dilengkapi meriam laras ganda kaliber 25 mm dan 37 mm, memiliki panjang 90,78 meter, dan lebar 11,12 meter, yakni jenis Landing Ship Tank (LST) "Class Frosch" yang dibuat di Veb Penee Werf, Wolgast, Jerman Timur tahun 1978.

Selain itu, berfungsi untuk mendukung operasi amfibi, mengangkut pasukan pendarat yang akan didaratkan ke pantai, dan juga mampu mengangkut enam tank amfibi dengan ukuran 6-7 meter serta peralatan tempur lainnya.

"KRI Teluk Cirebon bukan termasuk armada tempur maupun pemukul, namun sebagai armada pendarat dan pengangkut logistik," ungkap Arif.

KRI Teluk Cirebon 543 di bawah satuan kapal Amfibi Koarmabar, dan berinduk di Pangkalan Utama Pondok Dayung, Jakarta.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) wilayah perairan Kalbar memiliki tingkat kerawanan yang tinggi, seperti pencurian ikan oleh nelayan-nelayan asing.

Ada tiga wilayah perairan Indonesia yang menjadi primadona pencurian ikan bagi nelayan asing karena kaya akan ikan dan sumber daya kelautan lainnya, yaitu perairan Natuna, perairan Arafura, dan perairan Utara Sulut.

Perairan Kalbar termasuk dalam Zona III bersama Natuna, Karimata dan Laut China Selatan dengan potensi ikan tangkap sebanyak satu juta ton per tahun. Jenis ikan bervariasi seperti tongkol, tenggiri dan cumi-cumi.

Luas areal perairan Kalbar sampai Laut Cina Selatan seluas 26.000 km, meliputi 2.004.000 hektare perairan umum, 26.700 hektare perairan budi daya tambak, dan 15.500 hektare laut.

 

Sumber : Antara

Kopasaka Beraksi Di Bandara Juanda

SURABAYA-(IDB) : Satu tim Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmatim melaksanakan latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) berupa pembebasan sandera (anti teror) di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Selasa (14/10/2014). Latihan tersebut disaksikan langsung oleh President Director Angkasa Pura Airports Tommy Soetomo.

Dalam latihan ini melibatkan sekitar 950 personel, termasuk dari PT Garuda Indonesia dan Airnav Indonesia. Tema yang diangkat dalam latihan ini adalah One Day Exercise, yang pada pelaksanaannya menggabungkan tiga latihan sekaligus yaitu meliputi Security Exercise, Building Fire dan Full Scale Exercise of Aircraft Accident.

Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat ini merupakan kegiatan yang rutin diadakan oleh Angkasa Pura Airports, sebagai komitmennya dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi para stakeholder.

Dengan melalui latihan PKD ini, diharapkan agar personel di lapangan selalu sigap dan dapat berkoordinasi secara cepat jika terjadi keadaan darurat, seperti adanya ancaman bom dari teroris atau kebakaran gedung maupun kecelakaan pesawat terbang yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Latihan PKD di Bandara Juanda Surabaya ini, merupakan kali ke empat dan selanjutnya akan diselenggarakan hal serupa di Bandara I Gusti Ngurah Rai bali pada bulan Nopember mendatang sebagai latihan PKD terakhir pada periode tahun 2014.

Konsep skenario yang akan diusung akan lebih dramatis dan lebih besar, mengingat lebih dari 50 persen penumpang pesawat di Bandara tersebut merupakan turis asing dengan kapasitas pesawat yang beroperasi jenis wide body seperti Airbus 330 dan Boeing 777.



Sumber : TNI AL

Upacara Penurunan Ular-Ular Perang KRI Tanjung Fatagar-974

SURABAYA-(IDB) : Kepala Staf Komando Lintas Laut Militer (Kaskolinlamil) Laksamana Pertama TNI Karma Suta, S.E., memimpin pelaksanaan upacara penurunan ular-ular perang KRI Tanjung Fatagar-974 yang merupakan salah satu unsur kapal perang TNI Angkatan Laut di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) sekaligus menandai berakhirnya pengabdian sebagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), bertempat di Dermaga Semampir Koarmatim ujung Surabaya, Rabu (15/10).

Upacara militer yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Arief Rahmat Bintoro yang sehari-hari bertugas sebagai Komandan KRI Teluk Parigi-539, Kaskolinlamil saat membacakan sambutan Pangkolinlamil Laksamana Muda TNI Arie H. Sembiring yang mengatakan, bahwa ular-ular perang merupakan salah satu sarat sebuah kapal menjadi suatu kapal perang yang selalu berkibar di tiang gafel, oleh sebab itu saat ini dapat dijadikan sebagai suatu peristiwa resmi yang menandakan berakhirnya perjalanan sejarah pengabdian sebuah KRI Tanjung Fatagar-974 sebagai unsur kekuatan TNI Angkatan Laut.

Lebih lanjut Kaskolinlamil menjelaskan, bahwa KRI Tanjung Fatagar-974 sebelumnya merupakan kapal Pelni yang bernama KM Rinjani dengan melayani rute pelayaran dalam negeri selama 21 tahun. Kapal ini dibuat di Galangan JOS L Meyer Papenburg Jerman pada 3 Oktober 1983 yang memulai peluncurannya pada 18 Februari 1984. Kemudian dihibahkan kepada TNI Angkatan Laut pada 20 Juli 2005, selanjutnya memperkuat jajaran Kolinlamil sebagai kapal bantu angkut personel dalam operasinya untuk mendukung pergeseran personel dan material untuk Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Mengingat KRI TFG-974 saat ini telah melebihi maksimal batas usianya, untuk itu sudah layak diistirahatkan dalam kenangan bangsa yang penuh dengan kebanggaan dan kejayaan TNI Angkatan Laut.

Dalam upacara penurunan ular-ular perang kapal yang memiliki ukuran panjang seluruh 144 m, lebar 23 m, draft 5,9 m, DWT 3400 ton, GRT 3947,80 ton, dan NRT 8583,82 ton tersebut turut dihadiri oleh Kasarmatim, Danguspurlatim, Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut, Wadan Kobangdikal, Dan Lantamal V, Dan Pusdik Opsla, mantan Komandan KRI TFG-974 serta perwira, bintara, tamtama prajurit Satlinlamil Surabaya.



Sumber : TNI AL

Menengok Megahnya Isi Kapal Perang KRI Makassar

SURABAYA-(IDB) : Saat HUT TNI ke-69 lalu di Markas Komando Armada Timur (Koarmatim) Dermaga Ujung Surabaya, Jawa Timur, puluhan wartawan diizinkan untuk bermalam di kapal perang milik TNI Angkatan Laut. Pewarta pun bisa menikmati indahnya pemandangan Selat Madura dari KRI Makassar-509.

Sekitar 80 orang wartawan dari Jakarta, termasuk 2 wartawan asing, diberikan keistimewaan saat meliput HUT TNI. Para wartawan, termasuk detikcom, difasilitasi menginap selama 2 malam di KRI Makassar.

Wartawan berada di KRI Makassar pada tanggal 3-4 Oktober 2014 dan 6-7 Oktober 2014. detikcom pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mengelilingi kapal perang tersebut. Lalu apa saja isi dari KRI yang dikomandani oleh Letkol Setiyo Widodo itu?

KRI Makassar dibeli dari Korea Selatan pada tahun 2007 lalu. Tak hanya sekedar membeli, TNI AL mengirimkan prajuritnya ke Korsel saat KRI Makassar tengah dalam proses perakitan. Kapal yang saat ini sedang bersandar di Dermaga Ujung Surabaya itu memiliki 8 lantai.

KRI Makassar merupakan sebuah kapal Landing Platform Dock (LPD) dengan fungsi utama mengangkut pasukan serta seluruh perlengkapan dan kendaraan saat perang. "Geladak L (Lombok) paling bawah isinya mesin. (Di atasnya) geladak K (Kendal). Ada tank deck di situ yang bisa memuat 25 tank dan ranpur (kendaraan tempur)," ujar Letkol Setiyo di KRI Makassar, Senin (6/10/2014).



Di geladak K ini terdapat sebuah dock well sebagai tempat menyimpan kapal LCU (Landing Craft Utility). LCU ini merupakan kapal pendaratan serbaguna jika KRI Makassar tidak memungkinkan untuk merapat di sebuah daratan yang sulit terjangkau.

"LCU untuk pendaratan pasukan ke pulau-pulau kecil. Bawa rampur, tank, truk, personel. Di geladak setelahnya, geladak J (Jepara) isinya itu 8 barak pasukan," kata Setiyo.

Tepat di atas geladak J terdapat geladak H (Halong) yang dapat dibilang sebagai lantai dasar KRI. Jika penumpang naik melalui tangga dari luar kapal, maka geladak ini yang pertama kali ditemui.

Di geladak ini ada sebuah pos penjagaan prajurit dan car deck tempat memarkirkan mobil-mobil. Buritan kapal juga berada di geladak ini. Di tiap geladak yang memiliki barak, kamar mandi khas prajurit disediakan. Saat masuk ke dalam kamar mandi, ada sekat-sekat dengan masing-masing pancuran untuk prajurit mandi.

"Ada 2 barak pasukan juga dan buritan. Buritan untuk menempatkan tambatan-tambatan kapal. Ini adalah geladak parsial karena di sini tempat haluan yang merupakan tempat tambang tambatan kapal juga, ada rantai jangkar besar. Alat tambatnya namanya moring," ungkap Setiyo.

Dapur juga berada di bagian dek ini, ranpur dan 14 mobil bisa diparkirkan di sini. Selain itu, di geladak ini juga terdapat LCVP (landing craft vechicle person) yaitu kapal khusus untuk kendaraan personel. Ruang senjata juga berada di geladak H. Sayang saat detikcom meninjaunya senjata sedang tidak berada di ruangan tersebut.

"Senjata dan amunisi di tempat lain. Rahasia. Tidak boleh semua orang masuk. Di geladak ini juga ada komandemen, semacam ruang office, dan klinik kesehatan, hampir seperti RS kecil," Setiyo menuturkan. Saat detikcom sedang mengelilingi kapal, sejumlah prajurit jaga sedang bertugas mengecek kapal. Ronda malam dilakukan setiap hari tepat pukul 21.00 WIB.

"Ya dicek tali-talinya, bagus nggak tambatannya. Kalau lepas nanti kapal kan bisa lari. Ngecek dapur, ruangan senjata, amunisi juga," jelas seorang prajurit saat ronda malam, Senin (6/10/2014).

Naik ke atas geladak H adalah geladak G (Garut) yang terdapat 15 barak untuk pasukan. Tempat makan dan lounge room untuk prajurit. Di geladak ini area santai terpusat. Terdapat ruang semi outdoor yang dijadikan sebagai ruang olahraga sekaligus tempat untuk berkaraoke bagi pasukan.

Helipad juga berada di dek ini dan karena di area helipad merupakan ruang terbuka maka penumpang diperbolehkan untuk merokok di situ selama tetap menjaga kebersihan kapal.

"Di kapal ini ada 600 pasukan yang siap tempur," tegas Setiyo ketika berbincang dengan detikcom di lokasi.

Kembali mengenai KRI Makassar, di atas geladak G adalah geladak Flores (F) yang diperuntukkan bagi para perwira dan pejabat kapal. Ada 20 kamar yang disediakan untuk perwira. Isi kamar pun bermacam-macam. Ada 1 kamar yang bisa diisi oleh 6 orang dengan 3 kasur tingkat.

Ada yang hanya berisi 1 kasur tingkat untuk 2 orang yang dilengkapi kamar mandi dalam. Juga ada kamar berisi 1 orang yang diperuntukkan bagi perwira tinggi. Di tiap-tiap kamar bagi perwira disediakan kursi santai dan meja kerja sekaligus lemari yang di dalamnya disediakan jaket pelampung.



Dari geladak ini, tepatnya di ruang smooking room, penumpang bisa melihat indahnya kerlap-kerlip lampu Jembatan Suramadu dari tempat KRI Makassar bersandar kini.

Di geladak ini pun terdapat lounge khusus untuk perwira dan tamu VIP. Lounge di sini lebih luas dan nyaman dibandingkan louge untuk prajurit. Selain berderet beberapa meja bundar yang dikelilingi oleh kursi-kursi untuk perwira makan, ada sofa khusus bagi tamu VIP.

TV besar layar datar dengan sound system canggih juga disediakan di lounge ini. Di bagian deck ini pula 2 kamar VIP berada. Kamar ini dipergunakan untuk Presiden atau pejabat jika menginap di KRI Makassar.

"Presiden SBY dan Ibu Ani tidur di kamar VIP ini waktu Latgab TNI dan Sail Raja Ampat lalu," cerita Setiyo mengenai kamar berukuran 5x10 meter itu.

Berbeda dengan kapal pesiar, kamar VIP di kapal perang ini terlihat lebih sederhana. Memang ada 2 ruangan di dalamnya, yakni ruang tamu dan ruang tidur. Ruang tamu berisi sofa-sofa dan meja bewarna cokelat, meja kerja, dan kulkas.

 Kamar mandi yang berada di bagian ruang tamu juga tak bisa dibilang istimewa. Meski kecil dan tanpa bath-up, kamar mandi terlihat cukup nyaman. masuk ke dalam ruang tidur, kasur single disediakan di kamar VIP ini.

Sisanya adalah hanya lemari, bangku, kaca, dan meja rias kecil. Di dekat kamar VIP ini terdapat sebuah pintu khusus untuk tempat masuk atau keluar bagi Presiden dengan karpet merah di lantai tangganya.

"(Kamar VIP) ini tidak hanya untuk Presiden. Bisa untuk pejabat lain, Panglima atau kepala staf TNI. Tapi dikhususkan untuk Presiden," tukas Setiyo. Berlanjut ke di atas Flores ada Deck E (Ende) yang merupakan tempat pengawas kapal. Selain terdapat anjungan tempat operasional kapal, di geladak ini lah life craft ditempatkan.

Life craft merupakan tempat penyimpanan 20 sekoci penolong yang berada di bagian sayap kanan dan kiri kapal. Selain itu ruang amunisi dan pusat informasi tempur juga berada di geladak ini. Selain sekoci, terdapat suplai makanan bagi prajurit di dalam life craft jika sesuatu hal buruk terjadi.

Geladak paling atas adalah Deck D (Demak) yang merupakan geladak isyarat, di mana merupakan tempat orang-orang berkomunikasi dengan isyarat di lautan. Selain ada lampu-lampu, tanda isyarat, dan bendera-bendera, persenjataan pun berada di geladak ini.
 


"Senjata Orlicon 20mm (senjata konvensional), Mistral, (meriam) kaliber 57 (di sisi) haluan," ungkap Setiyo menjelaskan tentang senjata yang ada di KRI Makassar.

KRI Makassar juga dilengkapi ruang CIC untuk sistem kendali senjata (fire control system) serta sebagai alat komunikasi dengan kapal-kapal jenis kombatan lain untuk melindungi pendaratan pasukan dan ranpur serta pengendalian pendaratan helikopter.

Tak heran helipad tersedia di kapal perang tersebut. KRI Makassar ini juga difungsikan untuk operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana alam, dan Kapal Rumah Sakit.

"Waktu bencana gempa padang, bencana di Sorong, ke Philipina waktu bencana badai," tutup Setiyo.

Tak semua orang bisa masuk ke kapal perang AL ini. Melihat kekuatan alutsista TNI membuat masyarakat mempercayakan keamanan bangsa dan negara di tangan handal para prajurit. Dirgahayu TNI, jaya lah selalu.



Sumber : Detik