Showing posts with label Kapal Fregat. Show all posts
Showing posts with label Kapal Fregat. Show all posts

Kunjungan Ke KRI Bung Tomo 357

Trio MLRF with Sigma (photo: Ari / Jakartagreater.com) SURABAYA-(IDB) : Pertama kali menginjakan kaki di geladak KRI TOM-357, kami disambut oleh petugas jaga piket yang ramah dan mempersilahkan JKGR untuk melihat lihat isi KRI TOM didampingi seorang Prajurit Laut yang menemani JKGR.

Sore itu suasana udara Surabaya masih terasa panas dan kami sempat melirik papan pengumuman di pos jaga yang menyatakan Komandan Kapal sedang tidak berada di dalam kapal alias keluar.


JKGR tak menyia-nyiakan waktu untuk bisa memfoto kelengkapan KRI TOM dan Arsenalnya. Beberapa senjata memang dalam kondisi ditutupi dengan terpal (casing), sehingga kami tidak jadi mengabadikannya karena akan terasa kurang menarik. Sebagai gantinya kami abadikan senjata 3 matra KRI TOM yang multirole yaitu anti permukaan, anti udara dan anti bawah permukaan (kapal selam), dan juga radar radarnya, beserta hal unik yang ada di KRI TOM.


Kami sempat berpikir kenapa launcher Exocet blok 2 cuma terpasang dua dari 4 bracket penyangga yang tersedia, sedangkan kami juga tidak mendapatkan keterangan tentang type Launcher dan Torpedo yang terpasang di geladak KRI TOM.



imagePuas berphoto ria terdengar Oemroep yang mengatakan bahwa Komandan Kapal sedang memasuki Kapal dan ada harapan untuk bertemu Kolonel Laut Yayan Sofyan, ST. Setelah sempat menunggu, kami sapa Pak Yayan saat keluar dari Anjungan, ngobrol sebentar dan foto bersama. Kami dipersilahkan memasuki anjungan yang ternyata udaranya dingin karena ber-AC dan kami ngobrol lepas.


Perwira Menengah lulusan AAL angkatan 39 thn 1993 ini adalah Perwira yang mudah bergaul, tegas dan juga ramah. Beliau mempersilahkan kami wawancara walaupun tidak ada janji sebelumnya.


Kolonel Yayan sempat bingung Jakarta Greater itu media apa dan di mana. Setelah kami jelaskan dan dibantu oleh staffnya, beliau mengerti dan terus melanjutkan wawancara. Saya sempat tersenyum dalam hati mengingat warjager sempat mengasumsikan bahwa Kolonel Yayan Sofyan adalah salah satu sesepuh Warjag yaitu Bung Yayan Supriatna. Realitanya beliau tidak tahu Jakarta Greater.


Kami sampaikan ke Kolonel Yayan bahwa dia begitu terkenal di media kami dan kami adalah salah satu media yang tahu duluan mengenai kepastian mengakuisisi MLRF ini dari Sumber Kemenhan.


Kolonel Yayan menceritahkan pengalamananyya membawa KRI ini dari Inggris sampai ke tanah air dan yang saya tanyakan apa yang paling berkesan saat berlayar mengawaki KRI TOM. Beliau menjawab semuanya berkesan. Mantan Komandan Satkor Koarmatim dan juga Mantan Komandan Kapal jenis SIGMA KRI Frans Kaisepo 368 ini meneruskan wawancara.


 Kolonel Laut Yayan Sofyan, ST (photo: Ari / Jakartagreater.com)Routee Pelayaram KRI TOM dimulai dengan Kapal meninggalkan pelabuhan dermaga Portland (Inggris) setelah menjalani Sea Demonstrations di area Royal Navy Exercise Perairan Glasgow, Inggris dan membuat pemberhentian dan berkunjung di Malaga (Spanyol). Dari Malaga, KRI Bung Tomo melanjutkan perjalanan ke Civitavecchia (Italia), Port Said (Mesir), Jeddah (Saudi Arabia), Salalah (Oman), Cochin (India), dan Jakarta untuk mengakhiri perjalanan mereka di Surabaya.


Saat kunjungan Ke Malaga diadakan acara ramah tamah di geladak KRI Bung Tomo 357 yang juga dihadiri Komandan Angkatan Laut Kerajaan Spanyol di Malaga, Kol (L), José Luis García Velo termasuk menjalankan Misi Diplomatik. Saat di Spanyol, Kolonel Sofyan menyampaikan pidatinya dengan berbahasa Spanyol.


JKGR sempat bertanya, lebih canggih mana KRI TOM dan KRI jenis Sigma ?. Kolonel Yayan memberikan jawaban klise tidak mau membandingkan karena beliau juga mantan Komandan Kapal Sigma.


Beliau hanya menjelaskan bahwa MRLF ini canggih karena semua sistem pengoperasiannya sudah computerized dan juga bisa dioperasikan secara manual.


Pak bagaimana bila sebagai satuan pemukul Tiga MLRF kelas bung Tomo bersanding dengan empat Sigma class di gugusan terdepan ?. Beliau menjawab kekuatannya akan sangat dahsyat dikarenakan terintegrasinya CMS ke tujuh KRI tersebut, apalagi bila nanti PKR 10514 sudah jadi.


Kolonel ijinkan kami bertanya lagi, tentang senjata yang masih dibingungkan oleh teman teman di Warjag. Sebenarnya yang digendong ini masih Exocet Blok 2 atau blok 3 ? dan VLS nya masih memakai Seawolf atau sudah diganti dengan MICA ?. Kolonel Yayan tersenyum dengan berondongan pertanyaan kami yang menggebu dan terkesan penasaran banget. Beliau berkata untuk saat ini KRI TOM memang membawa semua yang ada dari Inggris berupa Exocet blok 2 dan VLS nya masih memakai Sea Wolf. Kami kejar terus, kapan Seawolf mau diganti, dikerjakan dimana dan oleh siapa ?. Lagi lagi Kolonel yang ramah ini tersenyum dan memberikan jawaban, dia sebagai user tidak tahu kapan akan diganti dan akan diganti dengan apa.


Vertical Launcher System KRI Bung TOM “Kami serahkan keputusan pada pimpinan dan Kemenhan. Bagi kami Prajurit adalah selalu siap menjalankan tugas dan bersyukur sudah diberi alutsista yang mumpuni dan diberi kepercayaaan oleh bapak Pimpinan untuk Mengawaki MRLF ini”, ujar Kolonel Yayan.


Beliau berterimakasih kepada KSAL Laksamana Marsetio yang sudah memberikan kepercayaan dan mandat untuk Mengawaki KRI TOM dan juga kepercayaan bagi rekan seangkatan Kolonel lulusan AAL Angkatan 39 thn 1993 yang juga mengawaki KRI Usman harun dan KRI John Lie. Penerima Adi Makayasa Lulusan Akabri Laut/AAL atau Lulusan Terbaik AAL thn 1993 adalah Komandan Kapal KRI Usman Harun.


JKGR melirik jam tangan dan melihat waktu kunjungan yang sudah mepet karena sudah dipesan petugas, jam 5 Sore harus sudah meninggalkan Zona terlarang ini. Sebenarnya masih belum tuntas apa yang ingin kami ketahui tentang KRI TOM yang sangat membanggakan kami sebagai rakyat.



KRI Bung Tomo - 357 bersandar di Koarmatim, Demaga Ujung, Surabaya, Jawa Timur 9/10/2014 (photo: Ari / JakartaGreater.com)Kami berpamitan kepada Kolonel Yayan Sofyan dan beliau berjanji akan membaca JKGR. Stafnya juga diperintahkan untuk mengecek media ini. Kami sebenarnya masih ingin mewancarai beliau dan juga Komandan KRI John Lie, KRI Usman Harun dan Komandan KRI lainnya. mungkin nanti dikesempatan yang lain.

Terimakasih Kolonel Laut Yayan Sofyan ST yang mau menerima kami dan meluangkan waktu untuk wawancara. Terimakasih KSAL dan Pangarmatim untuk Open Ship 8 Oktober 2014. Terimakasih Pak Satrio yang mengoreksi dan membimbing reportase ini.

 
Kita sudah sering melihat KRI Bung Tomo 357 buatan Inggris ini, namun belum tahu seperti apa isi KRI ini dan juga persenjataannya. Ari, biro JKGR Surabaya, akan mengajak warjags untuk melihat lihat isi dari kapal perang TNI AL yang baru ini.
 2 x triple BAE Systems 324mm torpedo tubes untuk menghancurkan sasaran di atas maupun di bawah air. (Ari Jkgr Biro Surabaya)

16 VLS untuk meluncurkan MBDA (BAE Systems) Sea Wolf surface-to-air missile. (Ari Jkgr Biro Surabaya).

2 x 4 Quad untuk meluncurkan 8 misil MBDA (Aerospatiale) Exocet MM40 Block II. (Photo: Ari Jkgr Biro Surabaya).

 Oto Melara 76mm gun.

 BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band air and surface radar.

image
 BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band air and surface radar.

 2 x MSI Defence DS 30B REMSIG 30mm guns

 Pintu masuk anjungan

Meja Piket jaga

 Ultra Electronics/Radamec Series 2500 electro-optic weapons director.

Ari JKGR Surabaya bersama Kolonel Yayan

image




















Sumber : JKGR

Bung Tomo Class Akan Dilengkapi Helikopter ASW Panther

SURABAYA-(IDB) : Sumber dari Angkatan Laut Indonesia mengatakan kepada IHS Jane di Surabaya, bahwa TNI AL akan melengkapi tiga korvet nya Bung Tomo Class dengan helikopter dari Airbus AS565 Panther, helikopter anti-kapal selam (ASW), pada tanggal 6 Oktober di Surabaya, Indonesia.

KRI Bung Tomo (357) melakukan ujicoba dengan AS365N Dauphin 2 pada tanggal 29 September. Ujicoba, yang termasuk operasi pendaratan touch and go, dilaut Jawa Tengah menjelang perayaan Hari Angkatan Bersenjata Indonesia pada tanggal 7 Oktober.

Menurut sumber, Dauphin 2 yang terlibat dalam ujicoba baru-baru ini, merupakan pinjaman dari Badan SAR Nasional (BASARNAS). Namun, ujicoba dilakukan dengan warna helikopter TNI AL untuk "menjaga latihan seperti realistis," kata sumber itu.

"Helikopter AS365N Dauphin 2 mirip dengan Panther AS565 dalam hal aspek fisik dan operasional. Ujicoba dengan AS365N yang dilakukan secara progresif pada korvet Bung Tomo Class dengan tujuan membiasakan penggunaan helikopter Panther AS565 ketika tiba", kata sumber itu. "Sambil menunggu helikopter Panther tiba, awak kapal sedang dibiasakan untuk beroperasi dengan helikopter sejenis".

TNI-AL mengumumkan bulan Mei 2014 bahwa akan memperoleh 16 helikopter AS565 Panther yang akan dikonfigurasi untuk ASW. Beberapa platform akan digunakan pada korvet Sigma 10514 dengan dipandu dengan rudal.

Keputusan untuk membeli AS565 itu atas rekomendasi produsen pesawat milik negara PT Dirgantara Indonesia (PTDI), yang akan terlibat dalam produksi helikopter maupun pemasangan alat anti kapal selam. Tidak ada informasi perihal jadwal pengiriman helikopter tersebut.



Sumber : Jane's

Tantangannya Guncangan Hebat Dan Suhu Dingin di Ruangan

JP-(IDB) : Menandai perayaan HUT Ke-69 TNI pagi ini (7/10), jajaran TNI-AL akan meluncurkan tiga kapal perang RI (KRI) terbaru dan paling canggih. Yakni, KRI Bung Tomo, KRI John Lie, dan KRI Usman-Harun. Wartawan Jawa Pos SURYO EKO PRASETYO dan GUSLAN GUMILANG mendapat kesempatan on board tiga hari di KRI Bung Tomo dalam pelayaran perdananya pekan lalu.

***

SEDIKITNYA 24 KRI baru memperkuat armada TNI-AL selama sepuluh tahun terakhir. Di antara puluhan kapal perang berbagai tipe dan ukuran itu, tiga kapal mutakhir jenis multi-role light frigate (MRLF) diklaim KSAL Laksamana TNI Marsetio paling canggih bila dibandingkan dengan kapal kombatan yang pernah dioperasikan maupun yang dikoleksi matra laut Merah Putih hingga kini.

”Spesifikasi MRLF sebagai kapal perusak kawal radar yang multiperan anti-kapal atas permukaan, anti peperangan udara, dan anti-kapal selam,” terang Marsetio yang ditemui di sela-sela acara geladi bersih HUT Ke-69 TNI di gedung Candrasa, Mako Armatim, Surabaya, Sabtu (4/10).

Kapal MRLF sangat siap menghadapi siapa pun di medan tempur. Serangan dari kapal lain, dari udara, hingga kapal selam dapat dihadapi. Kapal itu dilengkapi maritime surveillance untuk mengamati posisi lawan-lawannya.

Kemampuan MRLF dinilai Marsetio melebihi empat KRI jenis SIGMA (ship integrated geometrical modularity approach) produksi Belanda 2003. Empat SIGMA itu adalah KRI Sultan Hasanuddin, KRI Diponegoro, KRI Iskandar Muda, dan KRI Frans Kaisiepo. SIGMA merupakan kapal kelas terakhir sebelum kedatangan MRLF. Sebelum itu, TNI-AL mengoperasikan kapal-kapal eks Jerman. Yakni, kelas parchim dan kelas Van Speijk.

Tiga MRLF baru tersebut diseberangkan dari galangan Barrow in Furness, Inggris, dalam dua gelombang. KRI Bung Tomo (TOM) pada awal Agustus 2014, disusul KRI John Lie (JOL) dan KRI Usman-Harun (USH) pada awal September lalu. Untuk persiapan parade persenjataan dalam puncak peringatan HUT Ke-69 TNI di Mako Armatim hari ini, KRI TOM tiba lebih dahulu di pangkalan Armada RI Kawasan Timur (Armatim) pada pertengahan September. KRI TOM perlu waktu tak lebih dari 1,5 bulan untuk melayar dari Inggris ke Surabaya.

Setelah tugas menyeberangkan tuntas, Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan yang menjadi komandan pertama KRI mendapat tugas menyambut kedatangan KRI JOL dan KRI USH. Pelayaran penyambutan dikemas dalam latihan manuver di Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah. KRI TOM berlayar dari Armatim ke Karimunjawa dengan didampingi kapal kelas Van Speijk, yakni KRI Slamet Riyadi (SRI), bertemu KRI JOL dan KRI USH di perairan timur laut Karimunjawa.

KRI JOL dan USH –begitu masuk perairan Indonesia dari seberang Pulau Rondo, Aceh– berlayar ke tenggara dan timur dengan dikawal kapal lain kelas Van Speijk, KRI Oswald Siahaan. Kedua MRLF itu akhirnya bertemu ”saudara”-nya, KRI TOM, di utara laut Karimunjawa Minggu (29/9). Setelah itu, mereka menuju Mako Armatim di Surabaya untuk mengikuti parade persenjataan dalam acara perayaan HUT Ke-69 TNI hari ini.

Tiga kapal MRLF sempat berlatih menembak sasaran Pulau Gundul yang tidak berpenghuni di perairan Karimunjawa. Penembakan menggunakan meriam OTO-Melara 76 mm. Setelah itu, berlanjut latihan berbagai manuver. Formasi pertama berupa baris satu per satu ke belakang. Dilanjutkan berjajar ke samping, formasi panah, dan tombak.

’’Latihan ini menguji semua kemampuan dengan kecepatan tinggi. Kami putar (berbalik 360 derajat) ke kiri, kemudian putar ke kanan. Alhamdulillah tidak ada kendala berarti,’’ tegas Yayan.

Dia mengakui, MRLF secara persenjataan paling lengkap daripada KRI kelas lain. Sebelum mengomandani KRI TOM, Yayan malang melintang di berbagai kapal kombatan. Di antaranya, kelas SIGMA KRI Frans Kaisiepo dan Van Speijk KRI Ahmad Yani. Persenjataan di tiga MRLF itu didesain sama. Kapal-kapal tersebut berdimensi panjang 95 meter dengan lebar 12,7 meter dan tinggi 15,49 meter. Masing-masing dilengkapi sedikitnya lima instalasi persenjataan.

Selain meriam standar OTO-Melara 76 mm, kapal dilengkapi peluncur rudal Exocet MM40 dan senapan pertahanan DS 30B Remsig kaliber 30 mm. Dua senjata khas dari BAE Systems di MRLF itu adalah peluncur misil udara MICA dan peluncur torpedo 324 mm.

’’Sistem teknologi peralatan di MRLF ter-computerized dan semua serba sensitif,’’ terang Yayan. Sensitivitas yang dimaksud berupa early warning system.

Teknologi tersebut menggabungkan efektivitas biaya dengan standar aturan angkatan laut dunia. MRLF bisa menjadi kapal siluman yang tak bisa dideteksi radar bagi kapal target. Selain bertebaran closed circuit television (CCTV), sensor di MRLF sangat peka terhadap gangguan seperti asap.

Sistem pengendalian terintegrasi dari anjungan kapal maupun pusat informasi tempur (PIT) secara real time dapat mendeteksi kerusakan. Misalnya, ada sedikit gangguan di sistem mesin maupun peralatan pendukung, sensornya spontan menyala. Sistem tersebut mampu menghasilkan tingkat keselamatan tinggi dengan getaran minimal.

’’Saya bisa memantau semua itu langsung dari ruangan komando ini. Pasukan khusus (di TNI­-AL seperti Satuan Pasukan Katak dan Batalyon Intai Amfibi Korps Marinir maupun Detasemen Jala Mangkara) masuk kapal ini dari pintu mana pun pasti akan ketahuan,’’ ulas alumnus AAL angkatan 38/1993 itu.

Lantaran segala sesuatunya dapat dipantau dari ruang komando, dia bisa mengetahui segala gerak-gerik anak buahnya maupun keberadaan orang asing di kapalnya.

Kapal-kapal tersebut diyakini lebih dari layak menjaga perairan Indonesia. Laju jelajah MRLF bisa mencapai 31 knot (1 knot setara 1,8 kilometer per jam). Kecepatan itu tergolong tinggi untuk kendaraan laut. Kecepatan kapal setara 55,8 kilometer per jam. Hampir sama dengan kecepatan minimal mobil di jalan tol.

Jawa Pos yang mendapat izin dari Panglima Armatim Laksda TNI Sri Mohamad Darojatim untuk mengikuti latihan manuver KRI TOM turut merasakan tantangan yang tidak biasa berada di dalam MRLF. Meski cuaca pagi hingga sore relatif cerah, gelombang laut pada malam sempat membuat kapal terguncang agak keras. Perut bisa terasa mual bagi yang tidak terbiasa menaiki kapal perang berlayar.

”Kencangkan tali penambat helikopter dan peralatan-peralatan sebelum latihan manuver.” Demikian bunyi perintah Yayan kepada kru penerbang Pusat Penerbangan TNI-AL maupun kru kapal yang tergabung dalam satgas KRI TOM. Peringatan perwira menengah senior dengan tiga melati di pundak itu cukup beralasan. Sebab, ketika kapal berputar 360 derajat, kemiringan kapal dilihat dari anjungan bisa mencapai hampir 30 derajat.

Menurut bintara penerangan Dispen Armatim Peltu Era Budi Suganjar, berada di dalam MRLF termasuk lebih tenang daripada berlayar dengan SIGMA. ’’Saya merasakan naik KRI TOM ini seperti di kapal kelas Van Speijk dan lebih smooth dibanding berada di dalam SIGMA,’’ jelas Ganjar.

Berdasar gambar dimensi MRLF, kapal tersebut dilengkapi properti semacam sirip ikan di kanan kiri lunas yang berfungsi sebagai penyeimbang.

Tantangan lainnya, para penumpang harus siap menghadapi temperatur udara di dalam ruang kapal yang rata-rata 20 derajat Celsius. Suhu udara dalam kapal yang masih kinyis-kinyis itu termasuk dingin. Ruang tidur di geladak X yang disiapkan untuk ABK terasa lebih dingin daripada suhu di ruang lain. Meski begitu, penumpang bisa menghangatkan tubuh di ruang dapur.

’’Saya tidak menyangka di sini lebih dingin daripada pengalaman saya berlayar di KRI Sultan Hasanuddin,’’ komentar Ahmad Taufik, staf khusus Badan Intelijen Negara, yang turut dalam tim dokumentasi satgas itu.



Sumber : JP